Beranda . Prolog . Blog . Sketsa . Kaca . Inspirasi . Dheestudio


Jiwa Pelayanan Seorang Pimpinan


Sepertinya berbagai cobaan tak kunjung berakhir di negeri ini. Belum juga terhapus dalam ingatan kita, berbagai bencana alam melanda. Kini semakin ditambah dengan berbagai krisis di mana-mana. Baik krisis sandang, pangan, kesehatan, kenyamanan hingga krisis pimpinan.

Ironis, mungkin begitu kalimat yang biasa kita dengar sekarang. Untuk menggambarkan keadaan para pimpinan di negeri ini. Dikala sebagian rakyat semakin membutuhkan dukungan untuk sekedar bertahan hidup, sebagian pimpinan malah mengambil kesempatan untuk melupakan segala hal yang dulu pernah dijanjikan. Janji sebelum menuju puncak kepemimpinan mungkin telah terbiasa dilupakan di negeri yang dahulu telah merdeka ini.

Disadari atau tidak hukum rimba mulai menggantikan hukum nasional kita. Kita telah terbiasa untuk menumbuhkan rasa ingin menguasai, ingin memiliki. Sehingga saat merasa kuat tak ada salahnya kan menindas yang lemah, saat merasa berkuasa sudah wajar kan apabila bisa memenuhi segala keinginan kita. Tak begitu penting bagaimana cara mendapatkan semua keinginan itu. Itu yang telah biasa menghiasai kehidupan kita. Dan jika berbicara masalah menang – kalah, yang “kuat” akan menang.

Bisa dibayangkan bagaimana nasib bangsa ini apabila sifat demikian yang terus dibawa oleh para pimpinan. Begitu indahnya anugerah sebagai pimpinan itu sehingga kita juga lupa untuk apa gelar itu diberikan. Para petinggi negara yang semestinya mengayomi seluruh isi bangsa untuk kemakmuran bersama, saat ini lebih mementingkan kepentingan pribadinya di atas segalanya. Aji mumpung mungkin telah membudaya. Mumpung kaya, mumpung berkuasa, dan mumpung bisa, bangunlah kerajaan sendiri. Dan membangun kerajaan di atas penderitaan orang lain kadang benar-benar terjadi. Lalu masih pantaskah membeli mobil mewah jika garasi rumah telah terpenuhi sampah sisa banjir, masih pantaskah mendebatkan anggaran senilai 21 juta rupiah yang tetap “raib” jika lumpur di Sidoarjo masih juga memakan rumah dan lahan rakyat banyak. Tak terpikirkankah dimana penerus kita akan tinggal jika pulau atau mungkin negeri ini semakin terbenam lumpur-lumpur kerakusan. Ataukah kita akan tetap berjalan dengan roda-roda kesombongan ??

Lebih ironis lagi, sepertinya kekerasan telah membudaya di negeri ini. Tonton saja, stasiu ...



Doa membawa gundah gulana


"Pak yudhi.. dari mana aja, aku cari dari tadi je !"

Masih terhitung pagi, saat seorang rekan kerja menyapaku. Kalo dibilang teman juga ga enak karena umur beliau mungkin seumur adiknya ibuku (!!?). Tapi ibu ini memang rekan kerjaku.. hehe.

"Ada apa bu, tumben nyari saya.. mau ntraktir?", jawabku dengan sopan.

"Eh, jangan nuduh.. harusnya yg ntraktir itu pak yudhi wong belom punya tanggungan.. hehe."

Hehe juga, pikirku.

"Tapi boleh kok besok saya traktir kalo bisa bantuin saya.. saya bingung bgt neeh.. makanya nunggu2 pak yudhi dari kemaren.."
"Membantu ibu? Tapi saya belom p ...



Deegh !!!


"Duuh, gimana seh mbak?"

"Maaf, maaf mas.. ga sengaja.. duuh gimana? ada yg luka?"

Apes bgt siang itu. Rencanaku sebenernya cuma mo ngambil Fdisk di sekretariat. Buletin harus segera dicetak. Dua hari lagi kan tilem, ntar ga jadi lagi nyebar buletin di Pura (kayak pernah nyebarin aja). Nah, tadi pagi Gusti sang ketua dah marah2 ma aku.

"Renn.. kamu kan kosong siang ni, ambil segera tuh hasil layout. dah aku simpen di flashdisk. terus bawa ke percetakan sekalian ya. awas kalo ga bener lagi. Tau flashdisk kan?"

"Tau lah, temennya Flash Gordon kan?", kataku cuek.

Gusti yang ...



Google
 


Jika kemarau diumpamakan kegagalan dan hujan adalah cobaan, maka semua itu diperlukan untuk dapat melihat pelangi sebagai kesuksesan.
--- Edy

Kirim Inspirasimu !



Beranda . Prolog . Blog . Sketsa . Kaca . Inspirasi . Dheestudio

Please, do not distribute all of blog's contents with out my permission
© 2005 - 2009 Dhees.com